Ilustrasi/Pixabay
Ilustrasi/Pixabay
KARYA TERBIT · Dongeng

Seruling dari Bambu Bengkok

Di sebuah bukit yang hijau dan teduh, tumbuh serumpun bambu yang terkenal paling bagus di seluruh desa. Batang-batangnya tinggi menjulang, lurus, dan kokoh. Ketika matah…

Di sebuah bukit yang hijau dan teduh, tumbuh serumpun bambu yang terkenal paling bagus di seluruh desa.

Batang-batangnya tinggi menjulang, lurus, dan kokoh. Ketika matahari pagi menyentuh permukaannya, batang-batang hijau itu tampak mengilap. Jika angin datang, daun-daunnya bergesekan, menghasilkan suara gemerisik yang menenangkan.

Hampir semua bambu di sana tumbuh lurus.

Hampir.

Di ujung rumpun, tumbuh sebatang bambu muda bernama Kiko.

Entah mengapa, sejak kecil batang Kiko tumbuh berbeda. Bagian bawahnya melengkung ke kiri, bagian tengahnya berbelok ke kanan, sementara ujungnya kembali membungkuk.

Dari kejauhan, Kiko tampak seperti bambu yang salah tumbuh.

“Lihat aku, Kiko!” seru Bambu Tinggi suatu pagi. “Batangku lurus sekali. Kalau manusia datang, aku pasti dipilih menjadi tiang bendera.”

Bambu Lurus tak mau kalah.

“Kalau aku pasti lebih berguna. Tubuhku besar dan kuat. Aku cocok menjadi tiang rumah.”

Bambu-bambu lain ikut bergemerisik.

“Kalau Kiko jadi apa?”

Mereka memperhatikan batang Kiko yang berkelok-kelok.

“Pegangan panci?”

“Tongkat bengkok?”

“Kayu bakar!”

Tawa mereka pecah.

Kiko hanya diam.

Ia sudah terbiasa mendengar ejekan semacam itu. Namun setiap perkataan tetap terasa seperti duri kecil yang menusuk hatinya.

Diam-diam Kiko sering mencoba meluruskan tubuhnya.

Ketika angin datang dari kanan, ia menahan tubuhnya ke kiri. Ketika angin bertiup dari kiri, ia memaksa tubuhnya ke kanan.

Ia berharap suatu pagi akan terbangun dengan batang lurus seperti teman-temannya.

Namun semakin besar, lekukan tubuhnya justru semakin terlihat.

Kiko mulai percaya pada ejekan teman-temannya.

“Mungkin aku memang bambu yang gagal.”

Bambu yang Hendak Dibuang

Suatu siang, dua orang pencari bambu datang dari desa. Mereka membawa parang dan gulungan tali.

“Besok kita mulai membangun balai desa,” kata salah seorang dari mereka. “Kita membutuhkan bambu yang lurus dan kuat.”

Mendengar itu, bambu-bambu bergemerisik kegirangan.

“Pilih aku!”

“Aku paling lurus!”

“Batangku paling kuat!”

Tentu saja kedua lelaki itu tidak mendengar teriakan mereka.

Keduanya berjalan mengelilingi rumpun, memeriksa batang demi batang.

Ketika sampai di depan Kiko, salah seorang berhenti.

Ia memegang batang Kiko dan mengamatinya dari bawah sampai ke ujung.

Keningnya berkerut.

“Yang ini jelek.”

Temannya tertawa.

“Bengkok begitu mau dipakai untuk apa?”

“Potong saja sekalian. Biar tidak mengganggu bambu-bambu yang bagus.”

Kiko tersentak.

Parang terangkat.

Untuk pertama kalinya, Kiko tidak memikirkan tubuhnya yang bengkok. Ia tidak memikirkan ejekan teman-temannya.

Ia hanya takut hidupnya berakhir sebagai sesuatu yang dibuang.

Namun sebelum parang itu turun, terdengar teriakan dari bawah bukit.

“Hujan! Cepat turun! Langit sudah gelap!”

Kedua lelaki itu menengadah.

Awan hitam telah menutupi bukit.

“Besok saja kita kembali.”

Mereka pun bergegas turun.

Kiko masih gemetar.

Besok.

Besok mereka akan kembali.

Malam itu, ketika bambu-bambu lain sibuk membayangkan akan menjadi tiang, dinding, atau kerangka atap balai desa, Kiko memandang langit dalam diam.

Ia tidak lagi berharap menjadi bambu terbaik.

Tidak juga berharap menjadi tiang yang kokoh.

Keinginannya kini jauh lebih sederhana.

Ia hanya ingin berguna.

Ia hanya ingin menjadi sesuatu.

Malam Ketika Bukit Mengaum

Menjelang tengah malam, hujan turun.

Awalnya hanya rintik-rintik.

Tak lama kemudian, air tercurah dari langit.

Angin datang dari lembah dan menghantam rumpun bambu.

Wuuussshhh!

Seluruh bukit berguncang.

“Bertahan!” teriak Bambu Tinggi.

Bambu-bambu yang lurus menegakkan tubuh mereka. Akar mencengkeram tanah. Batang-batang kokoh itu berusaha melawan angin sekuat tenaga.

“Aku kuat!” teriak Bambu Lurus.

Angin datang lagi.

Lebih keras.

KRAAK!

Salah satu bambu patah.

Semua terdiam.

Belum sempat mereka menyadari apa yang terjadi, embusan berikutnya menghantam.

WUUUSSSHHH!

KRAAK!

KRAAK!

Dua bambu lainnya tumbang.

Bambu Tinggi mulai ketakutan. Ia berusaha membungkuk mengikuti angin, tetapi batangnya yang besar dan kaku sulit bergerak.

“Kiko! Apa yang harus kulakukan?”

Kiko sendiri tidak tahu.

Sejak kecil ia selalu membenci tubuhnya yang lentur dan melengkung. Bertahun-tahun ia berusaha melawan bentuk tubuhnya sendiri.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Kiko berhenti melawan.

Ketika angin mendorongnya ke kanan, ia ikut membungkuk ke kanan.

Ketika angin berbalik, ia meliuk ke kiri.

Tubuhnya merunduk begitu rendah hingga daun-daunnya hampir menyentuh tanah.

Wuuussshhh!

Angin mengamuk seolah hendak mencabut seluruh isi bukit.

“Jangan lawan!” teriak Kiko. “Ikuti anginnya!”

Beberapa bambu mencoba mengikuti.

Namun tubuh mereka terlalu kaku.

KRAAAK!

Bambu Tinggi patah di bagian tengah.

“Kiko!”

Kiko hanya bisa melihat tubuh temannya roboh diterjang hujan.

Sepanjang malam Kiko terus meliuk bersama angin. Kadang membungkuk ke kiri, kemudian ke kanan. Sesekali tubuhnya hampir menyentuh tanah sebelum perlahan bangkit kembali.

Menjelang fajar, badai akhirnya pergi.

Bukit mendadak sunyi.

Kiko perlahan mengangkat tubuhnya.

Pemandangan di hadapannya membuatnya terpaku.

Banyak bambu yang kemarin berdiri gagah kini patah dan berserakan di tanah.

Sedangkan Kiko masih berdiri.

Bengkok.

Aneh.

Tetapi utuh.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kiko memandang lekukan pada tubuhnya tanpa rasa malu.

Mungkin bengkok tidak selalu berarti lemah.

Sang Pembuat Seruling

Beberapa hari setelah badai, seorang kakek mendaki bukit.

Namanya Ki Darma. Di desa itu, ia dikenal sebagai pembuat alat musik bambu yang sangat terampil.

Hari itu Ki Darma sedang mencari bambu untuk membuat seruling bagi cucunya.

Ia memeriksa batang-batang yang tersisa. Sebagian retak akibat badai. Sebagian lagi terlalu muda.

Kemudian pandangannya berhenti pada Kiko.

Ki Darma mendekat.

Tangannya menyentuh permukaan batang Kiko.

Tok. Tok. Tok.

Ia mengetuknya perlahan, lalu mendekatkan telinga.

Tok. Tok.

Kakek itu tersenyum.

“Menarik.”

Kiko heran.

Belum pernah ada manusia yang memandangnya selama itu tanpa segera pergi.

Ki Darma mengamati lekukan batangnya.

“Bengkok,” gumamnya.

Hati Kiko seakan jatuh.

Lagi-lagi kata itu.

Namun Ki Darma belum selesai.

“Ruasnya rapat. Dindingnya bagus.”

Ia mengetuk sekali lagi.

Tok. Tok.

“Dan kau sudah melewati badai.”

Ki Darma tersenyum.

“Kau pasti kuat.”

Seandainya bambu bisa menangis, mungkin saat itu Kiko akan menangis.

Untuk pertama kalinya, seseorang melihat sesuatu yang baik pada bagian dirinya yang selama ini dianggap buruk.

Ki Darma memotong sebagian batang Kiko dengan hati-hati dan membawanya pulang.

Di bengkel kecilnya, ia membersihkan bambu itu, menghaluskan permukaannya, lalu membuat beberapa lubang dengan ukuran yang sangat teliti.

Anehnya, Ki Darma tidak meluruskan lekukan Kiko.

Ia justru mempertahankannya.

“Tidak semua seruling harus lurus,” katanya.

Hari demi hari berlalu.

Akhirnya seruling itu selesai.

Ki Darma membawanya ke beranda rumah. Ia mengangkat seruling ke bibir, menarik napas panjang, lalu meniupnya.

Fuuuu....

Sebuah nada mengalun.

Ki Darma terdiam.

Ia memandang seruling di tangannya, kemudian mencobanya sekali lagi.

Kali ini jari-jarinya bergerak menutup dan membuka lubang-lubang kecil pada batang Kiko.

Mengalirlah sebuah melodi.

Lembut.

Hangat.

Seorang anak yang sedang menangis di rumah sebelah perlahan terdiam.

Seorang petani yang baru pulang dari sawah menghentikan langkahnya.

Beberapa warga mendekat. Ada yang berdiri di pagar, ada pula yang duduk di halaman hanya untuk mendengarkan.

“Seruling baru, Ki?” tanya seseorang.

Ki Darma mengangguk.

“Bambunya aneh,” kata orang itu sambil memperhatikan bentuknya. “Tidak lurus seperti seruling biasanya.”

“Memang.”

“Lalu kenapa dipilih?”

Ki Darma memandang seruling di tangannya.

“Karena aku tidak sedang mencari bambu untuk menopang rumah.”

Ia mengangkat seruling itu kembali ke bibirnya.

“Aku mencari bambu yang bisa bernyanyi.”

Melodi kembali mengalun.

Sejak hari itu, seruling Kiko dimainkan dalam berbagai kesempatan. Suaranya menemani anak-anak menjelang tidur, menghibur petani selepas bekerja, dan mengalunkan lagu-lagu dalam berbagai perayaan desa.

Kiko akhirnya memahami sesuatu yang dahulu tak pernah terpikirkan olehnya.

Bambu Tinggi pernah bermimpi menjadi tiang.

Bambu Lurus ingin menjadi kerangka rumah.

Sedangkan Kiko pernah bersedih karena tidak mampu menjadi keduanya.

Padahal hidup tidak pernah meminta semua bambu menjadi tiang.

Ada bambu yang menyangga atap.

Ada yang menjadi pagar.

Ada yang menjadi jembatan.

Ada yang menjadi keranjang.

Dan terkadang, ada bambu yang tumbuh berbeda karena kelak seseorang akan menemukan musik di dalamnya.

Kiko tidak pernah menjadi bambu yang lurus.

Ia tetap bengkok seperti sejak pertama kali tumbuh.

Namun kini ia tidak lagi berharap menjadi seperti bambu lain.

Sebab sesuatu yang dahulu membuatnya merasa gagal, ternyata membawanya pada sebuah tempat yang tidak mungkin ditempati oleh siapa pun dengan cara yang sama.

Kiko akhirnya mengerti.

Ia tidak salah tumbuh.

Ia hanya tumbuh untuk tujuan yang berbeda. (*)
Sudah selesai membaca?

Masuk untuk mendapatkan +2 poin.

Masuk
Foto penulis
PENULIS

Fajar Maritim

Penulis muda ACSC.

★ 277 poin
RUANG APRESIASI

Komentar Pembaca

Belum ada komentar.
Masuk untuk Berkomentar