
Mimi dan Jembatan Kesabaran
Mimi adalah seekor landak kecil yang manis. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah rumah berbentuk jamur di tengah hutan. Mimi dikenal ramah dan suka menolong. Namun, ia me…
Mimi adalah seekor landak kecil yang manis. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah rumah berbentuk jamur di tengah hutan.
Mimi dikenal ramah dan suka menolong. Namun, ia mempunyai satu kebiasaan: ia sangat tidak sabar.
Ketika ingin makan buah beri, Mimi tidak mau menunggu sampai buah itu matang. Ia memetiknya saat masih hijau.
“Uh, pahit sekali!” keluhnya sambil menangis.
Ketika menanam biji bunga, Mimi menggali tanahnya setiap jam untuk melihat apakah biji itu sudah tumbuh. Akibatnya, biji tersebut rusak sebelum sempat mengeluarkan akar.
“Kenapa semua yang kuinginkan selalu membutuhkan waktu lama?” gerutu Mimi.
Suatu pagi, langit di atas hutan dipenuhi awan kelabu. Burung-burung terbang rendah. Semut-semut sibuk memindahkan telur mereka. Dari arah rawa, terdengar suara katak bersahutan.
“Sebentar lagi akan turun hujan besar,” kata Ibu Mimi.
Di seberang sungai tinggal Nenek Luma, seekor landak tua yang hidup sendirian. Kakinya sedang sakit sehingga ia tidak dapat pergi mencari makanan.
“Mimi, tolong antarkan persediaan makanan ini kepada Nenek Luma sebelum hujan turun,” pinta Ibu.
“Iya Bu!”
Mimi memasukkan buah-buahan, umbi, dan sebotol madu ke dalam keranjang. Setelah berpamitan, ia segera berjalan menuju sungai.
Namun, setibanya di sana, Mimi terkejut. Jembatan kayu yang biasa dilewatinya telah rusak. Beberapa papannya hanyut terbawa arus.
Di tepi sungai, Babo si berang-berang sedang mengukur beberapa batang kayu. Babo memang terkenal pandai membuat jembatan.
“Babo, cepatlah!” desak Mimi. “Aku harus mengantarkan makanan untuk Nenek Luma.”
“Aku sedang memilih kayu yang kuat,” jawab Babo. “Setelah itu, batang-batang ini harus diikat satu per satu.”
“Wah, kalau begitu selesainya pasti lama ya!”
“Jembatan harus dibuat dengan teliti, Mimi. Jika terburu-buru, jembatan itu bisa roboh.”
Namun, Mimi tidak mau mendengarkan. Ia melihat tiga batang kayu mengambang di pinggir sungai.
“Kita tinggal menyusunnya. Mudah sekali!”
Mimi mendorong ketiga batang kayu itu ke atas air. Kemudian, ia mengikatnya menggunakan rumput muda. Karena ingin segera menyeberang, Mimi membuat simpul seadanya.
“Jembatanku sudah jadi!” serunya bangga.
Babo menggelengkan kepala.
“Itu belum aman. Rumputnya terlalu lemah dan kayunya belum diperiksa.”
“Aku yakin jembatan ini cukup kuat,” jawab Mimi.
Ia pun melangkah ke atas jembatan buatannya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Pada langkah ketiga—
Krek!
Tali rumputnya putus. Ketiga batang kayu terpisah. Mimi kehilangan keseimbangan dan tercebur ke dalam sungai.
Byur!
“Tolong!” teriak Mimi.
Babo segera melompat ke dalam air. Dengan cepat, ia menarik Mimi ke tepi sungai sebelum arus membawanya lebih jauh.
Mimi selamat, tetapi seluruh tubuhnya basah kuyup. Keranjang makanannya ikut terjatuh. Buah dan umbi hanyut terbawa arus, sedangkan botol madu tersangkut di antara bebatuan.
Mimi duduk menunduk.
“Sekarang Nenek Luma tidak akan punya makanan karena aku,” katanya sedih.
Babo tidak memarahinya. Ia hanya mengumpulkan kembali kayu-kayu yang hanyut.
“Kita masih mempunyai waktu,” ujarnya. “Namun, kali ini kita harus membuat jembatan dengan benar.”
Mimi memandang langit. Awan terlihat semakin gelap.
“Bagaimana kalau hujan turun sebelum kita selesai?”
“Kita memang tidak dapat menghentikan hujan,” jawab Babo. “Tetapi kita dapat membuat jembatan yang tidak mudah hanyut.”
Mimi akhirnya mengangguk.
“Baiklah. Ajari aku, Babo.”
Pertama, mereka memeriksa setiap batang kayu. Kayu yang rapuh dipisahkan, sedangkan kayu yang kuat disusun sejajar.
Setelah itu, Babo mengajari Mimi membuat simpul dari akar rambat tua.
“Tarik, putar, lalu selipkan,” kata Babo.
Mimi mencoba mengikatnya, tetapi simpul itu terlepas.
“Gagal,” keluhnya.
“Tidak apa-apa. Cobalah sekali lagi.”
Mimi kembali mencoba.
“Tarik, putar, lalu selipkan,” gumamnya.
Ia masih beberapa kali melakukan kesalahan. Mimi ingin segera mengerjakan bagian berikutnya, tetapi Babo memintanya terus berlatih.
Pada percobaan kelima, Mimi akhirnya berhasil membuat simpul yang kuat.
“Aku berhasil!” serunya gembira.
Mereka terus bekerja sedikit demi sedikit. Setiap selesai mengikat satu bagian, Babo memeriksanya. Mimi mulai mengerti bahwa bekerja dengan teliti memang membutuhkan waktu. Namun, setiap simpul yang dibuat dengan benar menjadikan jembatan mereka semakin kukuh.
Menjelang sore, jembatan itu akhirnya selesai.
Mimi menekan-nekan papan jembatan dengan kakinya.
“Apakah sekarang kita boleh melewatinya?”
Babo memeriksa semua ikatan sekali lagi.
“Sekarang boleh.”
Mimi segera pulang untuk mengambil persediaan makanan yang baru. Setelah itu, ia dan Babo menyeberangi jembatan menuju rumah Nenek Luma.
Sesaat setelah mereka tiba, hujan turun dengan sangat deras.
Sungai meluap. Arus menghantam jembatan berkali-kali.
Mimi mengintip dari jendela rumah Nenek Luma. Jembatan itu berguncang, tetapi tetap berdiri kokoh.
“Lihat! Jembatannya tidak roboh!” seru Mimi.
Babo tersenyum.
“Karena kita membuat setiap ikatannya dengan sabar dan sungguh-sungguh.”
Nenek Luma memeluk Mimi.
“Terima kasih sudah membawakan makanan untuk Nenek.”
Malam itu, mereka menikmati umbi panggang dan madu sambil mendengarkan suara hujan.
Ketika umbi baru diangkat dari perapian, Mimi tidak langsung memakannya. Ia meletakkannya di atas piring dan menunggu sampai cukup dingin.
Babo memandangnya sambil tersenyum.
“Kau tidak ingin segera memakannya?”
“Tentu saja ingin,” jawab Mimi. “Tetapi sekarang aku tahu, terburu-buru tidak selalu membuat kita lebih cepat sampai pada tujuan.”
Sejak hari itu, jembatan tersebut dikenal sebagai Jembatan Kesabaran.
Setiap kali melewatinya, Mimi selalu memperhatikan simpul-simpul yang pernah dibuatnya. Simpul-simpul itu mengingatkannya bahwa sesuatu yang dikerjakan dengan sabar dan sungguh-sungguh akan menjadi kuat, bahkan saat menghadapi arus yang paling deras. (*)
Mimi dikenal ramah dan suka menolong. Namun, ia mempunyai satu kebiasaan: ia sangat tidak sabar.
Ketika ingin makan buah beri, Mimi tidak mau menunggu sampai buah itu matang. Ia memetiknya saat masih hijau.
“Uh, pahit sekali!” keluhnya sambil menangis.
Ketika menanam biji bunga, Mimi menggali tanahnya setiap jam untuk melihat apakah biji itu sudah tumbuh. Akibatnya, biji tersebut rusak sebelum sempat mengeluarkan akar.
“Kenapa semua yang kuinginkan selalu membutuhkan waktu lama?” gerutu Mimi.
Suatu pagi, langit di atas hutan dipenuhi awan kelabu. Burung-burung terbang rendah. Semut-semut sibuk memindahkan telur mereka. Dari arah rawa, terdengar suara katak bersahutan.
“Sebentar lagi akan turun hujan besar,” kata Ibu Mimi.
Di seberang sungai tinggal Nenek Luma, seekor landak tua yang hidup sendirian. Kakinya sedang sakit sehingga ia tidak dapat pergi mencari makanan.
“Mimi, tolong antarkan persediaan makanan ini kepada Nenek Luma sebelum hujan turun,” pinta Ibu.
“Iya Bu!”
Mimi memasukkan buah-buahan, umbi, dan sebotol madu ke dalam keranjang. Setelah berpamitan, ia segera berjalan menuju sungai.
Namun, setibanya di sana, Mimi terkejut. Jembatan kayu yang biasa dilewatinya telah rusak. Beberapa papannya hanyut terbawa arus.
Di tepi sungai, Babo si berang-berang sedang mengukur beberapa batang kayu. Babo memang terkenal pandai membuat jembatan.
“Babo, cepatlah!” desak Mimi. “Aku harus mengantarkan makanan untuk Nenek Luma.”
“Aku sedang memilih kayu yang kuat,” jawab Babo. “Setelah itu, batang-batang ini harus diikat satu per satu.”
“Wah, kalau begitu selesainya pasti lama ya!”
“Jembatan harus dibuat dengan teliti, Mimi. Jika terburu-buru, jembatan itu bisa roboh.”
Namun, Mimi tidak mau mendengarkan. Ia melihat tiga batang kayu mengambang di pinggir sungai.
“Kita tinggal menyusunnya. Mudah sekali!”
Mimi mendorong ketiga batang kayu itu ke atas air. Kemudian, ia mengikatnya menggunakan rumput muda. Karena ingin segera menyeberang, Mimi membuat simpul seadanya.
“Jembatanku sudah jadi!” serunya bangga.
Babo menggelengkan kepala.
“Itu belum aman. Rumputnya terlalu lemah dan kayunya belum diperiksa.”
“Aku yakin jembatan ini cukup kuat,” jawab Mimi.
Ia pun melangkah ke atas jembatan buatannya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Pada langkah ketiga—
Krek!
Tali rumputnya putus. Ketiga batang kayu terpisah. Mimi kehilangan keseimbangan dan tercebur ke dalam sungai.
Byur!
“Tolong!” teriak Mimi.
Babo segera melompat ke dalam air. Dengan cepat, ia menarik Mimi ke tepi sungai sebelum arus membawanya lebih jauh.
Mimi selamat, tetapi seluruh tubuhnya basah kuyup. Keranjang makanannya ikut terjatuh. Buah dan umbi hanyut terbawa arus, sedangkan botol madu tersangkut di antara bebatuan.
Mimi duduk menunduk.
“Sekarang Nenek Luma tidak akan punya makanan karena aku,” katanya sedih.
Babo tidak memarahinya. Ia hanya mengumpulkan kembali kayu-kayu yang hanyut.
“Kita masih mempunyai waktu,” ujarnya. “Namun, kali ini kita harus membuat jembatan dengan benar.”
Mimi memandang langit. Awan terlihat semakin gelap.
“Bagaimana kalau hujan turun sebelum kita selesai?”
“Kita memang tidak dapat menghentikan hujan,” jawab Babo. “Tetapi kita dapat membuat jembatan yang tidak mudah hanyut.”
Mimi akhirnya mengangguk.
“Baiklah. Ajari aku, Babo.”
Pertama, mereka memeriksa setiap batang kayu. Kayu yang rapuh dipisahkan, sedangkan kayu yang kuat disusun sejajar.
Setelah itu, Babo mengajari Mimi membuat simpul dari akar rambat tua.
“Tarik, putar, lalu selipkan,” kata Babo.
Mimi mencoba mengikatnya, tetapi simpul itu terlepas.
“Gagal,” keluhnya.
“Tidak apa-apa. Cobalah sekali lagi.”
Mimi kembali mencoba.
“Tarik, putar, lalu selipkan,” gumamnya.
Ia masih beberapa kali melakukan kesalahan. Mimi ingin segera mengerjakan bagian berikutnya, tetapi Babo memintanya terus berlatih.
Pada percobaan kelima, Mimi akhirnya berhasil membuat simpul yang kuat.
“Aku berhasil!” serunya gembira.
Mereka terus bekerja sedikit demi sedikit. Setiap selesai mengikat satu bagian, Babo memeriksanya. Mimi mulai mengerti bahwa bekerja dengan teliti memang membutuhkan waktu. Namun, setiap simpul yang dibuat dengan benar menjadikan jembatan mereka semakin kukuh.
Menjelang sore, jembatan itu akhirnya selesai.
Mimi menekan-nekan papan jembatan dengan kakinya.
“Apakah sekarang kita boleh melewatinya?”
Babo memeriksa semua ikatan sekali lagi.
“Sekarang boleh.”
Mimi segera pulang untuk mengambil persediaan makanan yang baru. Setelah itu, ia dan Babo menyeberangi jembatan menuju rumah Nenek Luma.
Sesaat setelah mereka tiba, hujan turun dengan sangat deras.
Sungai meluap. Arus menghantam jembatan berkali-kali.
Mimi mengintip dari jendela rumah Nenek Luma. Jembatan itu berguncang, tetapi tetap berdiri kokoh.
“Lihat! Jembatannya tidak roboh!” seru Mimi.
Babo tersenyum.
“Karena kita membuat setiap ikatannya dengan sabar dan sungguh-sungguh.”
Nenek Luma memeluk Mimi.
“Terima kasih sudah membawakan makanan untuk Nenek.”
Malam itu, mereka menikmati umbi panggang dan madu sambil mendengarkan suara hujan.
Ketika umbi baru diangkat dari perapian, Mimi tidak langsung memakannya. Ia meletakkannya di atas piring dan menunggu sampai cukup dingin.
Babo memandangnya sambil tersenyum.
“Kau tidak ingin segera memakannya?”
“Tentu saja ingin,” jawab Mimi. “Tetapi sekarang aku tahu, terburu-buru tidak selalu membuat kita lebih cepat sampai pada tujuan.”
Sejak hari itu, jembatan tersebut dikenal sebagai Jembatan Kesabaran.
Setiap kali melewatinya, Mimi selalu memperhatikan simpul-simpul yang pernah dibuatnya. Simpul-simpul itu mengingatkannya bahwa sesuatu yang dikerjakan dengan sabar dan sungguh-sungguh akan menjadi kuat, bahkan saat menghadapi arus yang paling deras. (*)

Komentar Pembaca