
Kisah Jam Pasir Emas
Di sebuah bengkel tua yang selalu dipenuhi denting palu, aroma kayu, dan debu halus, hiduplah seorang pengrajin bernama Pak Karta. Ia dikenal sebagai orang yang mampu me…
Di sebuah bengkel tua yang selalu dipenuhi denting palu, aroma kayu, dan debu halus, hiduplah seorang pengrajin bernama Pak Karta. Ia dikenal sebagai orang yang mampu memperbaiki benda-benda paling rumit, bahkan yang dianggap tak mungkin diperbaiki.
Suatu hari, datanglah seorang pemuda bernama Rian membawa sebuah jam pasir kuno warisan keluarganya.
Ada satu keanehan pada jam itu. Kedua tabung kacanya benar-benar kosong. Tak ada sebutir pasir pun di dalamnya.
"Pak Karta," kata Rian penuh harap, "tolong isi jam pasir ini dengan pasir terbaik. Kalau perlu pasir emas. Sebab saya ingin jam ini menjadi pengingat bahwa waktu saya sangat berharga."
Pak Karta tersenyum tipis.
"Baik. Datanglah tiga hari lagi dari sekarang."
Tiga hari kemudian, Rian kembali. Pak Karta menyerahkan jam pasir itu dengan hati-hati.
Namun, begitu melihat isinya, wajah Rian langsung berubah kecewa.
"Pasir hitam?" gumamnya. "Saya kira Bapak isi dengan pasir yang indah atau bahkan emas. Kenapa justru pasir yang tampak murahan seperti ini?"
Pak Karta tidak langsung menjawab.
"Coba balikkan jam pasir nya."
Rian membaliknya. Butiran-butiran pasir hitam mulai mengalir perlahan ke tabung bawah.
Ajaib.
Setiap butir yang jatuh berubah menjadi cahaya keemasan yang berkilau.
Rian terpukau.
Lalu Pak Karta berkata, "Sekarang, letakkan jam itu di meja. Jangan lakukan apa pun."
Rian menurut. Ia mulai melamun, memainkan ponselnya, lalu menghela napas bosan. Sementara itu, pasir terus mengalir.
Beberapa saat kemudian, ia kembali melihat jam pasir itu.
Kilau emas yang tadi memenuhi tabung bawah telah memudar. Warnanya berubah menjadi abu-abu kusam, seperti sisa pembakaran yang tak lagi bernilai.
Rian menatap Pak Karta dengan bingung.
Pak Karta tersenyum bijak.
"Pasir hitam itu bukan pasir biasa. Ia mencerminkan caramu memperlakukan waktu."
"Ketika waktu, kamu isi dengan kesungguhan, perhatian, belajar, bekerja, atau berbuat baik, setiap detik yang berlalu berubah menjadi emas. Nilainya akan tetap bersamamu."
"Tetapi ketika waktu dihabiskan untuk menunda, mengeluh, bermalas-malasan, atau membiarkannya berlalu tanpa makna, detik-detik itu berubah menjadi abu. Ia tetap lewat, tetapi tak lagi memiliki nilai."
Rian menggenggam erat jam pasir itu.
Saat itulah ia mengerti bahwa yang membuat waktu menjadi berharga bukanlah jam yang mahal, melainkan bagaimana setiap detik digunakan.
Karena pada akhirnya, waktu selalu mengalir. Kitalah yang menentukan apakah ia akan menjadi emas... atau hanya segenggam abu. (*)
Suatu hari, datanglah seorang pemuda bernama Rian membawa sebuah jam pasir kuno warisan keluarganya.
Ada satu keanehan pada jam itu. Kedua tabung kacanya benar-benar kosong. Tak ada sebutir pasir pun di dalamnya.
"Pak Karta," kata Rian penuh harap, "tolong isi jam pasir ini dengan pasir terbaik. Kalau perlu pasir emas. Sebab saya ingin jam ini menjadi pengingat bahwa waktu saya sangat berharga."
Pak Karta tersenyum tipis.
"Baik. Datanglah tiga hari lagi dari sekarang."
Tiga hari kemudian, Rian kembali. Pak Karta menyerahkan jam pasir itu dengan hati-hati.
Namun, begitu melihat isinya, wajah Rian langsung berubah kecewa.
"Pasir hitam?" gumamnya. "Saya kira Bapak isi dengan pasir yang indah atau bahkan emas. Kenapa justru pasir yang tampak murahan seperti ini?"
Pak Karta tidak langsung menjawab.
"Coba balikkan jam pasir nya."
Rian membaliknya. Butiran-butiran pasir hitam mulai mengalir perlahan ke tabung bawah.
Ajaib.
Setiap butir yang jatuh berubah menjadi cahaya keemasan yang berkilau.
Rian terpukau.
Lalu Pak Karta berkata, "Sekarang, letakkan jam itu di meja. Jangan lakukan apa pun."
Rian menurut. Ia mulai melamun, memainkan ponselnya, lalu menghela napas bosan. Sementara itu, pasir terus mengalir.
Beberapa saat kemudian, ia kembali melihat jam pasir itu.
Kilau emas yang tadi memenuhi tabung bawah telah memudar. Warnanya berubah menjadi abu-abu kusam, seperti sisa pembakaran yang tak lagi bernilai.
Rian menatap Pak Karta dengan bingung.
Pak Karta tersenyum bijak.
"Pasir hitam itu bukan pasir biasa. Ia mencerminkan caramu memperlakukan waktu."
"Ketika waktu, kamu isi dengan kesungguhan, perhatian, belajar, bekerja, atau berbuat baik, setiap detik yang berlalu berubah menjadi emas. Nilainya akan tetap bersamamu."
"Tetapi ketika waktu dihabiskan untuk menunda, mengeluh, bermalas-malasan, atau membiarkannya berlalu tanpa makna, detik-detik itu berubah menjadi abu. Ia tetap lewat, tetapi tak lagi memiliki nilai."
Rian menggenggam erat jam pasir itu.
Saat itulah ia mengerti bahwa yang membuat waktu menjadi berharga bukanlah jam yang mahal, melainkan bagaimana setiap detik digunakan.
Karena pada akhirnya, waktu selalu mengalir. Kitalah yang menentukan apakah ia akan menjadi emas... atau hanya segenggam abu. (*)

Komentar Pembaca